Essai

Sepasang Daun Kelor dan Dunia yang Hidup di Dalamnya

Pada saat mengendarai motor supra saya yang sederhana, menuju salah satu kampus terkenal di suatu negeri. Jauh-jauh dicari, menuju lorong fakultas, ruangan per ruang, informasi dari mulut seorang menuju informasi berlainan orang.

Saya mencari seorang Profesor bidang sastra. Setelah mengobrol terlebih dulu dengan seorang dosen terbang asal Tiongkok, perempuan bermata sipit, berkacamata dan khas kulitnya yang putih. Sang Profesor masuk tanpa mengetuk pintu, teman baru asal Tiongkok tadi langsung berdiri meletakkan kedua tangan ke belakang pinggangnya. Memberi semacam gestur hormat.

Saya berdiri, beliau langsung bertanya “Siapa?,” sambil menuju meja kerjanya, melempar tanya

“Saya Syarif, Pak. Mahasiswa Sastra. Senang bertemu dengan Bapak”,

“Iyaa”, jawabnya. Saya meneruskan kalimat, “Saya akan menerbitkan sehimpun sastra paling tua, gagasan dan pikiran, di dalamnya keringat dan lautan horison. Ketakaburan, sepi, ramai, sayatan duka yang bercampur kebenaran yang saya ramu, diolah, tak lupa telah dirapal mantra do’a. Saya sangat bahagia, jika Bapak bersedia menjadi salah satu pembaca pertama dan memberi kata pengantar di catatan pinggir cakrawala buku yang dimaksud”,

“Saya lagi sibuk! Kamu bisa keluar sekarang. Saya belum bersedia”. Sambil ia buka membuka halaman per halaman buku di atas mejanya.

Saya mematung, daripada menjadi sebuah patung tanpa ada yang dapat mengubah situasi; mengambil takdir, untuk menciptakannya.

Saya memilih mengambil sikap “Jadi, saya akan menunggu di luar ruangan atau Bapak bisa mengambil langsung tulisannya, Pak? “,

“Kamu keluar!, keluar ya”. Suara sang Profesor membentak langsung sambil menunjuk ke dada saya.

“Terima kasih, Pak. Untuk waktunya”. Sambil sekuat tenaga mengumpulkan senyum di wajah saya. “Baik. Baaik”. Sang Profesor menjawab pelan seperti seakan berhasil mengusir lalat yang mengganggu jam kerjanya.

Sejurus kemudian, saya langsung keluar dari ruangan.

Beberapa waktu, tak genap sebulan setelah itu. Seorang sastrawan, intelektual, dan filantropis besar terkenal seperti datang sendiri kepada saya. Bertukar buku, si Intelektual memberi buku karyanya sendiri, begitu pun saya. Ia membaca dan memberi kata pengantar pada buku pertama yang ditulis oleh jiwa, pohon-pohon pena yang tumbuh di pinggir samudera hati, palung terdalam saya.

Batu kali seakan diganti berlian yang menawan, setelah saya paham.

“Sosok atau entitas apa yang mengganti kekecewaan, kekhawatiran, dan duka tiap manusia kepada yang lebih baik itu?” Benak saya menerawang ke dalam hati dengan samudera di dalamnya, sambil memegang obor ilmu saya semakin masuk dalam dan lebih ke dalam lagi, di saat secara fisik saya sedang membaca salah satu halaman buku, buku yang tak lain adalah gagasan dan ia adalah anak saya.

Buku yang sedang digenggam ini, adalah anak saya yang akan melintasi ruang dan masa yang akan datang. Masa depan, dan saya yang bakal tidak lagi berada di bumi Allah ini. Saat di masa raga terbatas ini menjadi tanah, namun semoga anak saya besar dan menguatkan pikiran-pikiran dan hidup bagi orang lain.

-jakarta, suasana berawan usai hujan yang reda.

Back to top button