Essai

Menakar dan mengukur kekuatan politik DEMA FUFP dalam Lingkup UIN Alauddin Makassar (UINAM).

Sebagai pembacaan Sebelum mengupas lebih mendalam peta kekuatan politik tataran Dewan Mahasiswa (DEMA) maupun Senat Mahasiswa (SEMA) Fakultas Ushuluddin Filsafat dan Politik (FUFP) dalam tingkat  UINAM tentunya perlunya melacak histori dan peta kekuatan politik internal DEMA FUFP itu sendiri.

Dinasti politik FUFP di mulai pada priode 2013 sampai pada priode 2021, kurang lebih 8 tahun kekutan politik ini menancapkan cengkraman kekuasaanya. Kekuatan gerbong politik ini di dominasi oleh latar belakang organda Bone, Wajo, Sinjai dan Soppeng. Serta beberapa latar belakang oraganisasi ekstra tentunya banyak elemen tergabung di dalamnya baik HMI, PMII dan sebagian kecil IMM.

Kekuatan yang mengakar ini seharusnya menjadi nilai jual dalam membangun komunikasi politik lintas fakultas yang ada di UINAM, namun faktanya keadaan tersebut berbanding  terbalik ketika kita bercermin sepak terjang DEMA FUFP dalam ajang pesta demokrasi mahasiswa tahunan ini.

Sejak berggulirnya kembali pesta demokrasi tahunan itu tepatnya pada tahun 2018, setidaknya sudah memasuki masa 4 tahun namun DEM FUFP belum bisa berbuat banyak. Komunikasi politik DEMA FUFP ini di mulai sejak 2018 ketika membangun koalisi 3 kekutan politik dan mendeklarasikan 1 kandidat, adapun koalisi tersebut itu adalah DEMA FEBI, DEMA FAH, dan DEMA FUFP. Tawaran posisi strategis datang dari Delegasi DEMA Fakultas Syaria’ah dan Hukum sebagai upaya untuk menggoyang kekuatan dr 3 koalisi fakultas tersebut

 Adapun tawaran tersebut di antarannya sekjen ditambah 3 (tiga) presedium dan tawaran kepentingan jangka panjang yakni  FUFP 01 untuk tahun depan,namun tawaran ini ditolak dengan alasan demi menjaga reputasi sebuah nama. Harapan FUFP sendiri 3 koalisi fakultas ini tetap terjalin dan terjaga sampai 1 tahun kedepan berharap FUFP bisa di dorong 01, namun kenyataan tak seindah dengan harapan. Pada priode 2019 Fakultas Adab melabuhkan perahunya di FEBI.

Sebagai bentuk respon atas kekecewaan tersebut DEMA FUFP merapatkan suara ke Fakultas Dakwah. Pada priode 2020 FUFP kembali mengusung kandidat dengan harapan bisa membawa nama besar DEMA FUFP di panggung Dewan Mahasiswa UINAM. Namun sayang harapan itu harus kembali pupus dan putus di tengah jalan. Ketika fakultas Dakwah lebih memilih merapatkan suara ke fakultas Tarbiyah sebagai bentuk transaksi kepentingan di HMI cabang Gowa Raya. Akhirnya FUFP bakar perahu dan tidak menyatakan sikap ke fakultas manapun.

Nah? Bagaimana sikap politik FUFP pada priode 2021?

Dalam hal ini sadar akan kekuatan politik yang dimiliki FUFP, pada tahun ini tidak mengusung satupun kandidat. Lantas kemana arah politiknya?.

Ini sangat tergantung dengan komunikasi akhir siapa yang mampu meyakinkan dan merapatkan suara FUFP. Yang menjadi pertanyaan selanjutnya bagaimana posisi strategis FUFP pada momentum pesta demokrasi tahunan ini? Tentu jawabanya posisi strategis tidaklah penting bagi FUFP yang jauh lebih penting adalah bagaimana bisa ikut berpatisipasi dan jadi peserta pengembira.

Dari analisis di atas hipotesis yang bisa ditarik DEMA FUFP hanya memiliki nama besar dalam lingkup internal Ushuluddin Filsafat dan Politik sendiri namun tidak punya nilai jual di tataran Dema UINAM sejajaran. Seperti ungkapan pribahasa “bagai katak dalam tempurung”.

Setidaknya  ada 2 (dua) faktor yang mempengaruhi hal tersebut yang pertama jalur koordinasi komunikasi yang tidak jelas, dan yang kedua DEMA FUFP tidak punya nilai jual selain suara Demanya sendiri, dalam hal ini yang saya maksudkan seperti komunikasi organisasi ekstra dalam tingakatan cabang seperti Himpunan Mahasiswa Isalam (HMI) dalam hal ini Cabang Gowa Raya.

Terlepas dari itu semua apapun pilihan politik FUFP pada momentum ini itulah yang terbaik bagi proses kelembagaan bagi para kader yang ada dalam gerbong tersebut.

Penulis : Ical

Back to top button