EssaiHeadline

Media Sebagai Pilar Ke Empat Hanya Paradox dan Omong Kosong

Media yang selama ini dikatakan sebagai pilar keempat dalam sistem demokrasi menjadi paradox bahkan hanya omong kosong belaka.

Perkembangan media tidak hadir dalam ruang hampa melainkan hasil dan kelanjutan dari perkembangan teknologi dibidang komunikasi. Perkembangan tersebut telah berhasil merubah struktur kekuasaan di dunia tak terkecuali di Indonesia. Pemilik media melihat perkembangan tersebut sebagai ancaman bagi eksistensi media mereka. Untuk menangkal hal tersebut pemilik media harus turut andil dalam menentukan kebijakan pemerintah, kepentingan mereka hanya satu yaitu bisnis dan ujung-ujungnya duit.

Media massa memiliki peran penting sebagai pilar keempat dalam sistem demokrasi Indonesia. Kurang lebih 32 tahun orde baru memerintah sekaligus pembungkaman bagi para pekerja media massa. Buah orde baru sudah sangat ranum dan jatuh di belantara reformasi, ini kabar yang menggembirakan dan juga sebagai hadiah untuk media agar  liberalisasi dalam mewartakan suara rakyat tercapai sebagai penguatan pondasi sistem demokrasi.

Kurang lebih 20 tahun kapal reformasi berlayar disamudra lautan dunia namun tak kunjung tiba di dermaga kesejahteraan. Kapten kapalnya sudah silih berganti, namun belum ada kapten yang mampu membaca perubahan iklim lautan. Tapi gambaran atau citra kapten kapal didalam pemberitaan media seolah-olah sudah berhasil sampai di dermaga kesejahteraan tersebut. Tak ada masalah dalam ruang struktur masyarkat, tak ada yang mabuk dalam kapal, karna katanya kapal kita besar dan dilapisi emas sehingga takkan terguncang kala gelombang menghantam dan jauh dari kata berkarat. Seperti itulah citra kapal kita dimedia saat ini.

Selama ini pemberitaan media selalu menguntungkan para oligarki, pesan sudah menjadi komoditi bagi pemilik media. Tak pelak para pemilik media terjun dalam dunia politik demi mempertahankan status quo. Maka dari itu netralitas dalam media takkan pernah ada. Kita bisa lihat pemberitaan media pada pemilu tahun 2019 yang lalu, stasiun televisi yang satu memberitakan kemenangan kandidat yang satu sementara stasiun televisi yang lain memberitakan kemenangan kandidat yang lain. Ini terjadi karna salah satu faktornya adalah lembaga survei yang mereka gunakan berbeda dan variabel dalam menentukan kemenangan pun berbeda maka hasilnya pun akan berbeda. Terlepas dari survei tersebut ada oligarki yang turut bermain dibelakang layar kemana arah dan sikap mereka terhadap calon kandidat presiden. Olehnya itu media yang selama ini dikatakan sebagai pilar keempat dalam sistem demokrasi menjadi paradox bahkan hanya omong kosong belaka.

Prediksi McLuhan Tentang Masa Depan Media Adalah Pesan.

Marshall McLuhan merupakan tokoh Ilmu komunkasi yang mempunyai cara pandang yang berbeda tentang efek media. Berbeda dengan para tokoh yang fokus pada efek yang ditimbulkan oleh pesan, McLuhan justru melihat bahwa media itu adalah pesan itu sendiri.

Melalui ungkapan media adalah pesan, McLuhan ingin menyampaikan bahwa pesan yang disampaikan media tidaklah penting, dalam kata lain ia ingin menjelaskan bahwa media atau saluran komunikasi memiliki kekuatan dan memberikan pengaruhnya kepada masyarakat, dan bukan isi pesannya. Orang yang chatting di internet misalkan di Facebook, Instagram tidak terlalu mementingkan isi pesan yang mereka terima atau isi pesan yang mereka tulis tetapi kenyataannya bahwa penggunaan Facebook, Instagram dan media sosial lainnya justru itu yang penting.

Media Adalah Pesan Dalam Konteks Indonesia

Sebagai teori tentunya tidak lepas dari kritikan, namun konsep tentang media adalah pesan menjadi dasar pemikiran tentang masa depan sejak kehadiran internet. Kehadiran internet sebagai media justru membawa pesan bagi pemilik media seperti televisi, surat kabar, radio harus melakukan konektivitas zaman, dan lagi-lagi untuk memuluskan jalan tersebut pemilik media harus turut andil dalam sistem pemerintahan seperti yang saya jelaskan pada paragraf pertama tulisan ini.

Chairul Tanjung, Hary Tanoesoedibjo, Aburizal Bakrie, Surya Paloh. Siapa yang tidak kenal nama tokoh-tokoh tersebut. Nama-nama ini hanya sebagian kecil dari nama yang mempunyai media di Indonesia. Chairul Tanjung pemilik stasiun televisi trans tv, trans7 dan CNN, dan media daring Detik dan CNN. Hary Tanoesoedibjo pemilik MNC, Global, RCTI dan media daring Okezone dan Sindonews. Aburizal Bakrie pemilik TVone dan ANTV media daring Viva. Dan Surya Paloh pemilik MetroTV dan media daring Media Indonesia dan Metrotvnews. Dalam sistem pemerintahan keempat tokoh ini juga ikut bersaing bahkan mendirikan sebuah partai untuk mendapat kursi dipemerintahan, tak tanggung-tanggung mereka saling menjatuhkan satu sama lain dan seringkali menjadi sahabat ketika ada regulasi yang akan mengancam lintas jalur bisnis media mereka.

Dalam penelitian Ross Tapell tentang kepemilikan media di Indonesia menemukan bahwa, pertama pemilik media lebih aktif di panggung politik dan cenderung memengaruhi pemberitaan politik dan pemilihan umum. Kedua, pemilik media mendapatkan kekayaan yang jauh lebih besar dibanding sebelum era digital, memiliki konglomerasi media digital bukan sumber utama sukses finansial dan politik para pemilik media, tapi tersebut sangat menguntungkan. Ketiga, perusahaan media makin menyerupai dinasti, seringkali anak para pemilik media menempati posisi jabatan yang tinggi di perusahaan media, kondisi ini semakin memperparah pemberitaan di media.

Oleh karena itu mengapa sistem politik sangat berpengaruh dalam pemberitaan media karna panggung politik dikuasai oleh para pemilik media. Dan yang menjadi korban adalah masyarakat kecil, seolah-olah para penguasa membuat sebuah kebijakan politik demi kepentingan masyarakat, tetapi sebenarnya ini adalah pertarungan para pebisnis untuk meraih keuntungan sebayak-bayaknya.

Internet membuat media-media terdahulu menjadi kuno, dan kelihatan usang, media adalah pesan sebagai pendorong munculnya era digital yang membuat para pemilik modal untuk bersaing merebut citra pasar global dan era tersebut bernama digitalisasi pasar. Kapitalisme melihat media sebagai lumbung uang dan itu yang tidak dilihat Karl Marx tentang prediksi-prediksi kehidupan masa depan. Karl Marx hanya memprediksi kapitalisme akan hancur sendiri dengan kontradiksi-kontradiksi internal dalam sistem kapitalisme.

Kemajuan teknologi bukan menjadi penghalang bagi pemilik media-media terdahulu, mereka sukses beradaptasi dengan keadaan, modal yang besar memungkinkan media yang sebelumnya besar menjadi lebih besar lagi, dan sementara perusahaan-perusahaan kecil yang tidak mempunyai modal harus gulung tikar.

Media adalah pesan sebagai prediksi dari McLuhan bahwa akan terjadi sebuah perubahan transformasi struktur kekuasaan. Faktanya sekarang kita menghadapi seperti apa yang diramalkan oleh McLuhan. Sistem politik di Indonesia sudah diduduki oleh para pemilik media yang berlatar belakang pebisnis, jadi jangan heran kalau pemberitaan akan terpengaruh sesuai kepentingan pemilik media.

Ini menjadi ironi yang harus dihadapi manusia, harapan dari perkembangan media yaitu untuk mengahapus mitos-mitos informasi yang selama ini dianggap tidak masuk akal alias irasional, namun perkembangan tersebut justru membuat mitos-mitos baru dan makin membelenggu kebebasan manusia. Penggunaan media sudah masuk pada taraf hypermedia sebuah aktifitas yang sudah melebihi batas.

Matikan televisi mu dan nonaktifkan handphone mu, mulailah berbaur kepada masyarakat yang menjadi korban kebijakan pemerintah. Berbaur di masyarakat dengan membawa kepentingan mengembalikan kebudayaan dan tradisi yang mulai pudar digerus zaman. Tak perlu kursi kekuasaan untuk membuat perubahan dalam ruang masyarakat, cukup memahami dan mempertahankan bahasa kaum sebagai hegemoni tandingan dan dalil bahwa eksistensi kebudayaan kita masih berdiri kokoh. Kenali dirimu maka engkau akan mengenl Tuhanmu, Kenali bahasa kaum maka engkau akan mengenal kebudayaanmu.   

Referensi

Tapsell, Ross. Media power in Indonesia: Oligarchs, Citizens and the Digital Revolution. Inggris. 2017.

Morrisan, Teori Komunikasi Individu Hingga Massa. Jakarta: Prenadamedia Group. 2013.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button