NewsTokoh

Lukisan Kontemporer Dan Kaligrafi Dalam Balutan Kesedihan

uinam.persma.id – Nur Zhafirah Fadhilah pelukis kontemporer dan kaligrafi muda. Kelahiran Makassar, 15 Desember 2000. Dia telah memenangkan perlombaan kaligrafi lebih dari 3 kali. Selain lukisan tangan kaligrafi di atas kanvas menggunakan cat air, juga lukisan kontemporernya yang di balut dengan tema kesedihan.

Ia telah menggeluti dunia melukis diatas kanvas sejak duduk di bangku SMP hingga sekarang menginjak masa perkuliahan di Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar Jurusan Arsitektur angkatan 2018.

Karya-karya kaligrafinya telah banyak mengikuti perlombaan yang di adakan di sekolah-sekolah dan mendapatkan juara, di antaranya :

  1. Lomba kaligrafi juara 2 (2017)
  2. Lomba kaligrafi juara 2 (2017)
  3. Lomba kaligrafi kontenporer juara 1 (2018)
  4. Lomba melukis alam juara 1 (2018)
  5. Lomba kaligrafi hiasan juara 3 (2019)

Lukisan kaligrafinya lebih banyak bertemakan tentang kebahagiaan. Sedangkan lukisan kontemporernya lebih bercerita tentang suatu kesedihan dalam lukisan kontemporer tersebut, yang bertemakan tentang senja, fajar dan menyangkut tentang alam, “temanya tentang senja, fajar dan menyangkut tentang alamlah, salah satunya seperti seseorang yang merindu tapi tidak bisa bertemu”. Ucap Nur Zhafirah Fadhilah Rabu, 12 Agustus 2020.

Lukisan kontemporer kaligrafi nya telah banyak di jual di akun Instagramnya @kaligrafiindonesiaa. Di bandrol dengan harga mulai dari puluhan ribu rupiah hingga ratusan ribu rupiah.

Dari hasil usaha penjualan karya lukisan Zhafirah juga ia tabung untuk keperluan bisnisnya tersebut, sampai ia berencana untuk membuka sebuah kedai-kedai kecil di Jalan Perintis Kemerdekaan dekat Sangir Talaud.

“Hasilnya ada yang saya tabung dan ada juga yang saya pakai beli alat tulis dan saya pake bisnis kedai-kedai. Dan masih dalam proses, dan insya Allah di Jln Perinntis dekat sangir Talaud berdirinya”. Jelasnya.

Berawal dari sebuah kisah pahit asmara masa muda, Zhafirah menekuni melukis dari rasa sakit sebagai pembelajaran yang pernah ia alami dari kekasihnya terdahulu, sehingga ia menuangkan kesedihannya dalam bentuk lukisan.

“Sakitku saat itu jadi pembelajaran yang sangat besar… Dari kecewaku ini, saya juga bisa seperti sekarang yang berfikir bisnis dan menetralkan diri dari semua orang”. Tutupnya.

Hingga kini, lukisannya juga banyak di minati oleh kalangan-kalangan muda. Dan tidak sedikit panggilan melukis di sekolah-sekolah serta pernah mengajar melukis pada salah satu sekolah.

Rasa sakit menjadikan sebuah pembelajaran dalam kehidupan, sehingga Zhafirah bisa sampai seperti sekarang, menjadi pelukis kontemporer dan kaligrafi di usia muda.

Penulis : M.Fikri Badmas

Editor : Ojeng Senga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button