EssaiTokoh

Zaenal Beta Dalam lukisan Badai Pasti Berlalu

Arifin atau biasa di kenal dalam lukisannya sebagai Zaenal Beta, lahir di Makassar Sulawesi Selatan 19 April 1960. Ayahnya Daeng Beta adalah pedagang buah dan ibunya Daeng Saga hanya seorang ibu rumah tangga. Anak ke enam dari 12 bersaudara ini senang menggambar sejak usia 9 tahun.

Cita-cita menjadi pelukis nya itu awalnya tak pernah di setujui orang tuanya. Orang tuanya berharap Zaenal menjadi tumpuan keluarga. Orangtuanya ingin ia sekolah, lalu menjadi pegawai.

Patuh pada orangtua sekaligus ingin menekuni bakat, ia tetap bersekolah dan diam-diam ia suka ke Benteng Rotterdam untuk bergabung dengan para pelukis. Akhir tahun 1970-an ketika masih duduk di SMP PGRI 4, ia sudah menjadi kartunis untuk media lokal, seperti Pedoman Rakyat. Kemudian ia juga mengikuti kursus di Sanggar Jumpandang, pimpinan Bahtiar Hafid, seorang pelukis Makassar.

Agar orangtua tak tahu aktivitas melukisnya, ia memakai nama ‘Zaenal Beta’, tak menggunakan nama lahirnya, Arifin. Hasil lukisannya pun disembunyikan di Benteng Rotterdam. Lama-kelamaan ia tak tahan juga. Tahun 1980, kepada orang tuanya, ia mengatakan tak ingin lagi sekolah dan hanya ingin melukis. Ia minta pengertian dan restu mereka, setelah itu, ia tinggalkan rumah selama enam tahun, berkelana ke berbagai tempat hingga kembali lagi pada 1986.

Sejak saat itu nama Zaenal dikenal sebagai seorang pelukis tanah liat dan telah mendapatkan berbagai penghargaan lainnya, diantaranya : Philips Morris Award, 60 besar dalam kompetisi seni lukis se-ASEAN (1986). Delapan Besar Internasional Lomba Karikatur Anti Apartheid (2003) Juara ketiga Lomba Poster Pemberdayaan Perempuan di Beijing, China.

Karya-karya nya pun kini dikenal wisatawan lokal dan tersebar di berbagai mancanegara, dalam karya-karya Zaenal Beta lebih menuangkan sebuah cerita tentang adat-istiadat dan kebudayaan yang ada di Sulawesi Selatan. Diantara karya-karya tersebut ia berusaha mengungkapkan tradisi leluhur, misalnya perkampungan tradisional, pelabuhan rakyat, tradisi panen petani, atau Phinisi dalam berbagai gaya.

Diantara lukisan Zaenal Beta yang memiliki kesan adalah karya lukisan kapal phinisi yang terombang-ambing di lautan. Berjudul badai pasti berlalu, lukisan itu menggambarkan keteguhan orang Makassar yang terombang-ambing dalam mengarungi cobaan dan ujian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button